-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Lumajang Perkuat Fondasi Sosial, Kerukunan Dibangun Lewat Komitmen Bersama

Thursday, 2 April 2026 | 11:09 WIB | 0 Views Last Updated 2026-04-02T04:09:58Z

 

R_Semeru.com | Lumajang - Kerukunan antarumat beragama tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh dari kesadaran kolektif, dirawat melalui dialog, dan diperkuat oleh komitmen bersama. Pesan itulah yang mengemuka dalam kegiatan Halalbihalal Badan Kerja Sama Antar Gereja (BKSAG) Kabupaten Lumajang yang digelar di Aula Arjuna Hotel Gajah Mada, Rabu (1/4/2026) malam.


Wakil Bupati Lumajang, Yudha Adji Kusuma, menegaskan bahwa harmoni sosial tidak boleh dipahami sebagai kondisi yang hadir secara otomatis di tengah masyarakat yang majemuk. Menurutnya, kerukunan justru merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan kesadaran, kemauan, dan tindakan nyata seluruh elemen masyarakat.


“Kerukunan antarumat beragama bukanlah sesuatu yang terjadi dengan sendirinya. Ia harus diupayakan, dirawat, dan dijaga bersama,” ujarnya.


Ia menekankan bahwa menjaga keharmonisan membutuhkan sikap saling menghormati yang konsisten, bukan hanya dalam ruang formal, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks ini, perbedaan keyakinan tidak boleh menjadi sekat, melainkan ruang untuk saling memahami dan memperkaya perspektif kebangsaan.


Lebih lanjut, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperluas kerja sama lintas komunitas keagamaan. Kolaborasi tersebut dinilai penting, tidak hanya untuk menjaga stabilitas sosial, tetapi juga untuk mendorong pembangunan yang inklusif dan berkeadilan.


Menurutnya, kerja sama lintas iman dapat diwujudkan melalui berbagai kegiatan sosial yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Dari aksi kemanusiaan hingga pemberdayaan ekonomi, sinergi antarumat beragama dapat menjadi kekuatan nyata dalam menjawab tantangan sosial.


Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya menumbuhkan kepedulian sosial sebagai fondasi utama dalam merawat kebersamaan. Kepedulian, menurutnya, adalah jembatan yang mampu menghubungkan perbedaan dan membangun rasa saling memiliki di tengah keberagaman.


“Kepedulian sosial harus menjadi budaya bersama. Ketika masyarakat saling peduli, maka sekat-sekat perbedaan akan mencair dengan sendirinya,” tambahnya.


Dalam pandangannya, Lumajang memiliki modal sosial yang kuat untuk terus menjaga harmoni. Namun, tanpa komitmen yang berkelanjutan, modal tersebut dapat melemah seiring waktu. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang konsisten dari seluruh pihak, baik pemerintah, tokoh agama, maupun masyarakat.


Sementara itu, Ketua BKSAG Kabupaten Lumajang, Isaac Soetanto Latief, menyampaikan bahwa merawat perdamaian merupakan tanggung jawab bersama. Ia menilai, kegiatan Halalbihalal menjadi salah satu ruang strategis untuk memperkuat komunikasi dan membangun kepercayaan antarumat beragama.


“Perdamaian tidak bisa dibebankan hanya kepada pemerintah. Ini adalah tanggung jawab kita bersama sebagai masyarakat yang hidup dalam keberagaman,” ujarnya.


Kegiatan tersebut menjadi refleksi bahwa harmoni tidak cukup hanya dijaga melalui wacana, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Dialog, kerja sama, dan kepedulian sosial menjadi tiga pilar utama dalam membangun kehidupan masyarakat yang damai.


Dalam konteks pembangunan daerah, kerukunan antarumat beragama menjadi fondasi penting yang menentukan keberhasilan berbagai program. Tanpa harmoni sosial, pembangunan akan kehilangan arah dan keberlanjutannya.


Melalui momentum Halalbihalal lintas iman, pesan tentang pentingnya merawat kerukunan kembali ditegaskan. Bahwa keberagaman bukanlah tantangan yang harus dihindari, melainkan kekuatan yang harus dikelola bersama demi masa depan Lumajang yang lebih damai, inklusif, dan berdaya. 


Reporter: alief

×
Berita Terbaru Update