R-Semeru.com | Probolinggo - Malam yang penuh cahaya keberkahan itu seakan menjadi saksi hidup betapa cintanya umat kepada para pewaris nabi. Ribuan jamaah, santri, alumni, habaib, tokoh masyarakat, dan para pecinta ulama dari berbagai daerah memadati kompleks Pondok Raudlatul Hasaniyah 2 dalam rangka Haul Almarhum Al-‘Arifbillah Waliyullah KH. Hasan Saifourridzall.
Bukan sekadar agenda tahunan, haul ini menjelma menjadi majelis ruhani yang sarat makna, menghadirkan lautan dzikir, shalawat, air mata kerinduan, sekaligus pengingat tentang pentingnya meneladani perjuangan ulama yang hidupnya diabdikan sepenuhnya untuk agama, pendidikan, dan umat.
Sejak awal acara, suasana khidmat begitu terasa. Lantunan dzikir dan doa menggema menyelimuti seluruh area pesantren. Para jamaah tampak larut dalam kekhusyukan, seolah sedang diajak kembali menyusuri jejak perjuangan, ketawadhu’an, kezuhudan, dan cinta kepada Allah SWT yang diwariskan Shohibul Haul semasa hidupnya.
Rangkaian acara dibuka dengan tawassul yang dipimpin oleh Habib Hadi Bin Ba'adud. Dengan penuh ketundukan, ribuan jamaah menengadahkan tangan, berharap keberkahan para auliya’ dan masyayikh terus mengalir bagi umat Islam.
Nuansa syahdu semakin terasa ketika ayat-ayat suci Al-Qur’an dilantunkan oleh Ust. Hasan Mubarok. Suara merdu yang menggema di tengah malam itu seakan mengetuk relung hati, mengingatkan bahwa kehidupan hanyalah perjalanan singkat menuju keabadian.
Momentum paling menggetarkan hadir saat sambutan atas nama Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong disampaikan oleh KH. Moh. Hasan Noufal Syaifurridzal. Dengan suara penuh keteduhan dan penghayatan mendalam, Non Boy mengajak jamaah untuk menjaga sanad keilmuan, memuliakan guru, serta melanjutkan perjuangan para ulama.
Tak hanya itu, beliau juga membacakan manaqib Almarhum Al-‘Arifbillah KH. Hasan Saifourridzall mulai masa kecil, perjalanan dakwah, perjuangan membesarkan pendidikan, hingga detik-detik akhir kehidupan beliau. Suasana mendadak hening. Tangis haru jamaah pecah ketika kisah-kisah ketulusan, kesederhanaan, dan kemuliaan akhlak beliau disampaikan dengan penuh cinta.
Dalam kesempatan itu, Non Boy juga mengungkap berbagai keteladanan dan karomah Shohibul Haul yang hingga kini masih hidup di tengah masyarakat. Salah satu kisah yang paling menyentuh disampaikan dari penuturan salah satu dosen Universitas Islam Zainul Hasan Genggong, Dr. Fathullah, MM.
Menurut cerita yang disampaikan Non Boy, Dr. Fathullah mengenang Almarhum sebagai sosok pejuang pendidikan sejati yang tidak hanya memerintah, tetapi turun langsung memberi teladan nyata. Almarhum disebut sebagai sosok yang berjasa besar dalam membangun dan membesarkan lembaga pendidikan di lingkungan pesantren, termasuk mendirikan SMA di Genggong hingga berkembang pesat dan melahirkan cabang-cabang pendidikan lainnya.
“Beliau bukan hanya seorang pemimpin besar, tetapi pejuang yang rela turun langsung. Bahkan urusan pembangunan gedung, sarana-prasarana sekolah hingga menyapu halaman sekolah pun beliau lakukan sendiri. Subhanallah... inilah teladan luar biasa bagi para pejuang pendidikan,” tutur Non Boy yang disambut decak kagum jamaah.
Tak berhenti di situ, Non Boy juga mengisahkan salah satu warisan pemikiran monumental Almarhum, yakni konsep Satlogi Santri yang hingga kini terus dikembangkan di berbagai lembaga pendidikan.
Menurutnya, Satlogi Santri merupakan mutiara nilai yang jauh melampaui zamannya. Setiap huruf memiliki makna mendalam: Sopan Santun, Ajeg, Taqwallah, Ridlallah, dan Ikhlas Lillahi Ta’ala. Nilai-nilai itu, menurutnya, menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter santri yang unggul, bermartabat, dan berjiwa pengabdian.
"Hebatnya lagi, Satlogi Santri ini kini banyak dibahas dalam karya ilmiah, artikel akademik, bahkan menjadi inspirasi pengembangan pendidikan karakter di berbagai lembaga termasuk Kementerian Agama. Seolah beliau sudah melihat kebutuhan umat di masa depan,” ungkap Non Boy penuh takzim.
Gemuruh shalawat kemudian mengguncang majelis ketika pembacaan Maulid Nabi Muhammad SAW dipimpin oleh Habib Reza bin Hasan Alhamid. Ribuan jamaah bersahut-sahutan melantunkan pujian kepada Rasulullah SAW, menghadirkan suasana mahabbah yang begitu hidup dan menggetarkan hati.
Acara dilanjutkan dengan pembacaan Surah Yasin oleh Habib Abu Bakar Al Idrus serta tahlil yang dipimpin Habib Hadi Bin Ja'far. Malam itu benar-benar berubah menjadi samudra doa, cinta, dan kerinduan kepada para kekasih Allah.
Puncak acara diisi mau’idzah hasanah oleh KH. Syakur Dewa yang tampil penuh wibawa namun menyentuh hati. Dalam tausiyahnya, Gus Dewa menegaskan bahwa haul bukan sekadar mengenang wafatnya seseorang, melainkan momentum menghidupkan kembali ruh perjuangan, keikhlasan, dan keteladanan para ulama.
“Orang-orang shalih mungkin telah wafat jasadnya, tetapi ilmu, doa, perjuangan, dan cahaya keteladanannya akan terus hidup di hati umat,” dawuh beliau yang langsung diamini ribuan jamaah.
Dengan gaya khas yang lugas dan mendalam, Gus Dewa juga menjelaskan tingkatan seorang kiai. Menurut beliau, tingkatan pertama adalah Kiai ‘Alim, yakni ulama yang mendalam ilmunya. Kedua, Kiai ‘Abid, yaitu ulama yang tidak hanya alim tetapi juga kuat tirakat dan wiridnya. Pada bagian ini, beliau menyebut salah satu putra Shohibul Haul, KH. Moh. Hasan Zidni 'Ilman, sebagai sosok yang dikenal kuat dalam wirid dan tirakatnya.
Sementara tingkatan tertinggi adalah Kiai ‘Arif, yakni sosok yang menghimpun kedalaman ilmu, kekuatan ibadah, dan kematangan spiritual sekaligus.
“Dan sosok yang kita haulkan malam ini, Almarhum Al-‘Arifbillah KH. Hasan Saifourridzall, beliau adalah gabungan dari ‘Alim, ‘Abid, dan ‘Arif. Subhanallah...” tungkas Gus Dewa penuh haru sebelum menutup tausiyah dengan doa bersama.
Malam haul itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar peringatan tahunan. Ia berubah menjadi lautan cinta kepada ulama, majelis penguat ruhani, sekaligus pengingat bahwa perjuangan orang-orang shalih tidak pernah benar-benar berakhir. Jejak mereka akan terus hidup, menerangi hati umat, dan menjadi lentera peradaban sepanjang zaman.
Reporter : SS
Editor : Kabiro Kab/Kota Probolinggo
