R-Semeru.com | Probolinggo – Suasana haru, semangat, dan optimisme mewarnai prosesi penutupan Diklat Penguatan Kompetensi Kepala Madrasah dan Kepala Raudhatul Athfal (RA) yang berlangsung di MAN 2 Pajarakan, Kabupaten Probolinggo, Jumat (12/06/2026). Kegiatan yang berlangsung selama lima hari tersebut secara resmi ditutup oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Dr. H. Akhmad Sruji Bahtiar, M.Pd.I.
Prosesi penutupan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan "Padamu Negeri" yang diikuti seluruh peserta dengan penuh khidmat. Lantunan lagu tersebut seakan menjadi pengingat bahwa pengabdian seorang pendidik dan pemimpin madrasah merupakan bagian dari ikhtiar besar mencerdaskan kehidupan bangsa.
Acara kemudian dilanjutkan dengan laporan panitia yang disampaikan oleh Ketua Panitia Lokal, Dr. Muhammad Zamroni, M.Pd.
Dalam laporannya, beliau menyampaikan rasa syukur atas kelancaran pelaksanaan diklat yang berlangsung sejak Senin hingga Jumat, 8–12 Juni 2026.
"Alhamdulillah, seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan lancar, tertib, dan sukses. Diklat ini diikuti oleh 120 peserta yang terdiri dari Kepala RA, Kepala MI, Kepala MTs, dan Kepala MA se-Kabupaten Probolinggo," ungkapnya.
Untuk menunjang efektivitas pembelajaran, seluruh peserta dibagi menjadi tiga kelas atau angkatan, masing-masing berjumlah 40 peserta. Kegiatan ini terselenggara berkat sinergi antara Kelompok Kerja Madrasah (KKM) Kabupaten Probolinggo, Balai Diklat Keagamaan Surabaya, dan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo.
Lebih lanjut, Dr. Zamroni melaporkan bahwa berdasarkan evaluasi Tim BDK Surabaya, seluruh materi yang telah dirancang dalam kurikulum diklat berhasil disampaikan secara tuntas kepada peserta.
"Sebanyak 10 materi inti telah diberikan secara menyeluruh oleh para narasumber. Tidak hanya tuntas secara administratif, tetapi juga diterima dengan antusias luar biasa oleh seluruh peserta," jelasnya.
Ia juga mengungkapkan apresiasinya terhadap semangat belajar para peserta selama mengikuti diklat.
Menurutnya, tingkat kedisiplinan, kehadiran, dan komitmen peserta menjadi salah satu indikator keberhasilan kegiatan tersebut.
"Sesuai jadwal, kegiatan dimulai pukul 07.30 WIB hingga 17.15 WIB. Namun faktanya, banyak peserta yang sudah hadir sejak pukul 06.00 pagi. Ini menunjukkan semangat belajar dan kesungguhan luar biasa yang patut diapresiasi," tuturnya.
Ia bahkan sempat menyinggung suasana hari keempat diklat ketika peserta mendapatkan suntikan motivasi dari Kepala Balai Diklat Keagamaan Surabaya, KH. Dr. Muchammad Toha, S.Ag., M.Si.
"Dengan gaya khas beliau yang penuh humor namun sarat makna, suasana kelas kembali hidup. Yang semula mulai kelelahan menjadi bersemangat, yang mulai lesu kembali bergairah, bahkan yang hampir tertidur kembali fokus mengikuti kegiatan. Beliau berhasil menyegarkan kembali semangat para peserta untuk terus belajar dan mengabdi," ujarnya disambut senyum para hadirin.
Menutup laporannya, Ketua Panitia Lokal memohon kepada Kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur untuk berkenan memberikan arahan dan pencerahan kepada seluruh peserta agar ilmu, wawasan, dan pengalaman yang diperoleh selama lima hari pelatihan benar-benar memberikan dampak nyata bagi kemajuan madrasah masing-masing.
"Kami berharap apa yang telah dipelajari selama lima hari ini tidak berhenti di ruang diklat semata, tetapi mampu diterjemahkan menjadi aksi nyata, inovasi nyata, dan perubahan nyata di madrasah yang dipimpin oleh Bapak dan Ibu sekalian," pungkasnya.
Kompetensi Kepala Madrasah Harus Melahirkan Dampak
Dalam arahannya, Kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur, Dr. H. Akhmad Sruji Bahtiar, M.Pd.I, menegaskan bahwa keberhasilan seorang kepala madrasah tidak cukup hanya diukur dari banyaknya sertifikat, pelatihan, maupun program yang diikuti.
Menurut beliau, kepala madrasah yang berhasil adalah pemimpin yang mampu menghadirkan perubahan nyata dan memberikan dampak positif bagi lembaga yang dipimpinnya.
Beliau menjelaskan bahwa seorang pemimpin pendidikan setidaknya harus memiliki tiga kompetensi utama.
Pertama, Empati Intelektual, yaitu kemampuan memahami persoalan secara rasional, berpikir strategis, membaca peluang, serta mampu mengambil keputusan berdasarkan ilmu pengetahuan dan data yang akurat.
Kedua, Empati Emosional, yakni kemampuan memahami perasaan, kebutuhan, dan kondisi orang lain sehingga mampu membangun hubungan yang harmonis dengan guru, tenaga kependidikan, peserta didik, maupun masyarakat.
Ketiga, Empati Spiritual, yaitu kemampuan menghadirkan nilai-nilai keikhlasan, integritas, keteladanan, dan tanggung jawab kepada Allah SWT dalam setiap kebijakan dan tindakan kepemimpinan.
"Kalau tiga kompetensi ini dimiliki oleh seorang kepala madrasah, maka insya Allah kepemimpinannya akan menghadirkan kemajuan sekaligus keberkahan," tegasnya.
Beliau kemudian mengingatkan bahwa seluruh materi yang telah diterima selama lima hari diklat harus benar-benar dipahami dan diterapkan.
"Bapak-Ibu sudah menerima sepuluh materi. Kalau setelah pulang dari sini tidak ada yang berubah, tidak ada yang diterapkan, masuk telinga kanan keluar telinga kiri, maka ilmu itu menjadi mulghah, menjadi sesuatu yang sia-sia. Sayang sekali jika kesempatan yang sangat berharga ini tidak menghasilkan perubahan apa pun," ujarnya.
Menurutnya, seorang kepala madrasah adalah pemimpin yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.
Karena itu, seorang pemimpin tidak boleh hanya pandai memberi instruksi, tetapi harus mampu memberikan keteladanan.
"Banyak pemimpin gagal bukan karena kurang pintar, tetapi karena tidak mampu menjadi contoh. Ucapannya berbeda dengan tindakannya. Mengajak disiplin tetapi dirinya tidak disiplin. Mengajak bekerja keras tetapi dirinya tidak memberi contoh. Mengajak berubah tetapi dirinya enggan berubah. Kepemimpinan seperti ini tidak akan melahirkan kepercayaan," tandasnya.
Tashihun Niyah: Luruskan Niat dalam Menuntut Ilmu
Pada kesempatan tersebut, beliau juga mengajak seluruh peserta untuk melakukan tashihun niyah atau meluruskan niat dalam menuntut ilmu.
Mengutip nasihat Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ayyuhal Walad, beliau mengingatkan bahwa tujuan belajar bukanlah sekadar mendapatkan sertifikat atau pengakuan formal.
"Mari kita luruskan niat. Jangan sampai mengikuti diklat hanya untuk memperoleh sertifikat. Sertifikat itu penting, tetapi bukan tujuan utama. Tujuan utama belajar adalah menghilangkan kebodohan agar kita tidak tersesat dan tidak menyesatkan orang lain," pesannya.
Beliau menjelaskan bahwa seorang guru maupun kepala madrasah memegang amanah yang sangat besar karena setiap ilmu yang diajarkan akan memengaruhi masa depan peserta didik.
"Bayangkan jika seorang guru mengajarkan sesuatu yang salah karena tidak mau belajar. Bukan hanya dirinya yang keliru, tetapi murid-muridnya juga bisa ikut salah. Karena itu belajar adalah bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual seorang pendidik," ujarnya.
Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa setelah mengikuti diklat ini, para kepala madrasah harus mampu bergerak dan menggerakkan orang lain.
"Ilmu yang diamalkan akan melahirkan manfaat. Ketika ilmu diterapkan, madrasah akan berkembang. Guru-gurunya akan meningkat kualitasnya. Peserta didiknya akan lebih berprestasi. Budaya kerjanya akan semakin baik. Dan semua itu bermula dari kepemimpinan kepala madrasah," jelasnya.
Beliau menambahkan bahwa maju tidaknya sebuah madrasah sangat bergantung pada kualitas kepemimpinan kepala madrasahnya.
"Madrasah tidak akan bisa terbang tinggi jika pemimpinnya berjalan di tempat. Sebaliknya, madrasah akan melesat maju ketika kepala madrasahnya memiliki visi, keberanian berinovasi, keteladanan, serta kemampuan menggerakkan seluruh potensi yang dimiliki lembaganya," tegasnya.
Mengakhiri arahannya, Kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur secara resmi menutup kegiatan Diklat Penguatan Kompetensi Kepala Madrasah dan Kepala RA dengan melepaskan tanda pengenal peserta secara simbolis sebagai tanda berakhirnya seluruh rangkaian kegiatan.
Prosesi penutupan berlangsung khidmat dan penuh makna, sebelum akhirnya ditutup dengan doa bersama yang dipanjatkan sebagai ungkapan syukur sekaligus harapan agar ilmu yang diperoleh selama lima hari diklat dapat menjadi bekal dalam membangun madrasah yang lebih maju, unggul, dan berdampak bagi masyarakat.
Reporter : SS
Kontributor : Kepala MAN 2 Pajarakan
Editor : Kabiro Kab/Kota Probolinggo
