-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Militansi Nahdliyin Menggema di Pantai Bentar, Kader MWCNU Maron Tampil Solid dalam Apel Akbar PCNU Kraksaan

Sunday, 28 June 2026 | 22:58 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-28T15:58:16Z

 


R_SEMERU.COM | Probolinggo – Gelora semangat khidmah dan militansi Nahdlatul Ulama membuncah di kawasan The Bentar Beach, Gending, Kabupaten Probolinggo, Ahad (28/6/2026). Ribuan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (KPNU) dari seluruh wilayah PCNU Kraksaan memadati lokasi untuk mengikuti Apel Akbar Kader Penggerak Nahdlatul Ulama, sebuah momentum konsolidasi akbar yang meneguhkan komitmen kader dalam menjaga marwah organisasi, memperkuat persatuan, serta memperkokoh pengabdian kepada agama, bangsa, dan negara.


Di antara ribuan peserta yang hadir, delegasi Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Maron tampil sebagai salah satu rombongan dengan jumlah peserta yang besar, tertib, disiplin, dan penuh semangat. Sejak selepas Salat Subuh, para kader telah berkumpul untuk mengikuti apel pemberangkatan sebelum bergerak bersama menuju Pantai Bentar. Kekompakan yang mereka tunjukkan menjadi bukti nyata bahwa semangat kebersamaan dan loyalitas terhadap jam'iyah terus hidup dan mengakar di tengah-tengah warga Nahdliyin Maron.


Suasana religius telah terasa sejak rangkaian pra-acara dimulai. Istighatsah yang dipimpin para masyayikh, lantunan shalawat Nabi dari Jam'iyah Hadrah, hingga prosesi ijazah para wali kutub menghadirkan nuansa spiritual yang begitu mendalam. Ribuan kader larut dalam doa dan munajat, memohon keberkahan agar perjuangan Nahdlatul Ulama senantiasa mendapat pertolongan Allah SWT.


Kehadiran kader MWCNU Maron tidak hanya sebagai peserta. Mereka juga mendapat kehormatan mengemban amanah dalam rangkaian acara, di antaranya menjadi petugas pembacaan ayat suci Al-Qur'an dan memimpin lantunan Shalawat Badar. Penampilan tersebut mendapat apresiasi dari peserta karena berlangsung dengan penuh penghayatan dan kekhidmatan.



Keberangkatan delegasi MWCNU Maron dikoordinasikan langsung oleh Ketua SATGAS Kader MWCNU Maron H. Kholid Mustofa, M.Pd. bersama Sekretaris Jenderal SATGAS Kader MWCNU Maron Ustadz Sholeh Shobirin, S.Pd.I., M.Pd. Keduanya mengonsolidasikan seluruh unsur Nahdliyin mulai dari Pengurus MWCNU, Pengurus Ranting NU, lembaga-lembaga NU, badan otonom (Banom), Muslimat NU, Fatayat NU, GP Ansor, Banser, hingga kader penggerak dari seluruh desa di wilayah Kecamatan Maron sehingga proses pemberangkatan berlangsung tertib, rapi, dan penuh semangat persaudaraan.


Ketua SATGAS Kader MWCNU Maron, H. Kholid Mustofa, M.Pd., menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh kader yang telah menunjukkan loyalitas dan kecintaannya kepada Nahdlatul Ulama.


"Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh Kader Penggerak NU se-MWCNU Maron, khususnya kepada Ketua Tanfidziyah MWCNU Maron beserta seluruh jajaran pengurus atas dukungan yang luar biasa. Kekompakan hari ini membuktikan bahwa semangat berkhidmah kepada Nahdlatul Ulama tetap menyala kuat. Semoga kebersamaan ini menjadi energi untuk terus menjaga marwah organisasi serta memperkuat pelayanan kepada umat," ujarnya.


Memasuki acara inti, Apel Akbar diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an yang menggema di seluruh arena, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars Hubbul Wathan Minal Iman, kemudian laporan Pemimpin Apel kepada Pembina Apel sebagai tanda dimulainya prosesi resmi.


Bertindak sebagai Pembina Apel adalah Katib PCNU Kraksaan, Nun Hassan Ahsan Malik, S.Sy., M.Pd. Dalam amanatnya, beliau menegaskan bahwa Apel Akbar bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian dari strategi besar kaderisasi Nahdlatul Ulama dalam membentuk kader yang memiliki integritas, loyalitas organisasi, wawasan kebangsaan, serta kesiapan menghadapi berbagai tantangan zaman.


Menurutnya, kader NU harus menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat, menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama'ah An-Nahdliyah, memperkokoh persatuan bangsa, serta terus hadir memberikan manfaat bagi masyarakat. Dengan kader yang berkualitas, NU akan tetap menjadi garda terdepan dalam menjaga kerukunan, keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan kemaslahatan umat.



Turut hadir memberikan pengarahan, Bupati Probolinggo sekaligus Penasehat PCNU Kraksaan, Gus dr. Muhammad Haris, M.Kes. Dalam sambutannya, beliau mengajak seluruh kader Nahdlatul Ulama untuk senantiasa mengingat sejarah perjuangan para muassis yang telah membangun NU dengan penuh keikhlasan, pengorbanan, dan doa.


"Nahdlatul Ulama dibangun bukan di atas kemegahan, bukan pula karena perebutan kedudukan. Ia lahir dari air mata para kiai, dari sujud panjang para ulama, dari keikhlasan santri yang rela mengabdi tanpa berharap dikenal. Setiap jengkal perjalanan NU dibayar dengan doa, perjuangan, bahkan pengorbanan yang mungkin tak pernah tercatat dalam lembaran sejarah," tuturnya disambut tepuk tangan ribuan peserta.


Suasana seketika menjadi hening. Dengan nada penuh keteduhan namun sarat makna, Gus Haris mengingatkan bahwa setiap kader NU memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga amanah para ulama pendiri. Beliau mengajak seluruh Nahdliyin agar terus memelihara ukhuwah, mengedepankan persatuan, serta menghindari segala bentuk perpecahan yang dapat melemahkan perjuangan organisasi.


"Mari kembali merawat ukhuwah, menenangkan hati, mengutamakan kemaslahatan di atas kepentingan pribadi maupun golongan. Mari saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan. Sebab di balik berdirinya Nahdlatul Ulama terdapat pesan agung bernama persatuan. Itulah warisan paling berharga yang ditinggalkan para pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus amanah yang wajib kita jaga dan kita teruskan kepada generasi berikutnya," pesannya.


Menambah kekhidmatan suasana, Gus Haris kemudian membacakan sebuah puisi yang sarat makna tentang kecintaan kepada Nahdlatul Ulama, pengabdian kepada para ulama, serta semangat menjaga Indonesia. Dengan intonasi khas yang penuh penghayatan, bait demi bait puisinya menggema di sepanjang Pantai Bentar, menyentuh relung hati para kader. Tak sedikit peserta yang larut dalam suasana haru sebelum akhirnya arena apel bergemuruh oleh tepuk tangan panjang sebagai bentuk penghormatan atas pesan-pesan kebangsaan dan ke-NU-an yang disampaikannya.


Momentum apel semakin khidmat ketika seluruh peserta secara bersama-sama mengikrarkan Sembilan Perintah Kader PCNU Kraksaan sebagai pedoman moral dan arah perjuangan kader dalam menjaga jam'iyah, memperkuat persatuan, memperluas kaderisasi, mengembangkan jejaring strategis, memperkuat gerakan LAZISNU, serta membangun literasi dan media sebagai instrumen dakwah Nahdlatul Ulama.


Selanjutnya, Ketua Tanfidziyah PCNU Kraksaan, KH. Hafidzul Hakim Noer atau yang akrab disapa Non Hafidz, memimpin Pernyataan Sikap dan Komitmen Bersama dalam mendukung penguatan gerakan LAZISNU dan PD-PKPNU sebagai dua pilar penting yang akan menentukan masa depan organisasi.


Dalam komitmennya, beliau menegaskan bahwa NU yang besar harus ditopang oleh kader yang kuat, mandiri, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Karena itu, seluruh kader diajak menjadikan LAZISNU sebagai gerakan gotong royong umat yang mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat, sementara PD-PKPNU harus terus diperkuat sebagai pusat kaderisasi yang melahirkan kader-kader ideologis, visioner, berintegritas, dan siap melanjutkan estafet perjuangan Nahdlatul Ulama.


"Kita tidak boleh hanya bangga menjadi bagian dari Nahdlatul Ulama, tetapi juga harus mampu menjadi pelayan umat yang menghadirkan solusi. NU akan semakin besar apabila kadernya terus bergerak, terus belajar, terus bersatu, dan terus memberi manfaat. Kaderisasi tidak boleh berhenti, kepedulian sosial tidak boleh surut, dan semangat pengabdian harus terus menyala sepanjang zaman," tegasnya.


Di penghujung komitmennya, Non Hafidz memimpin yel-yel kebanggaan PCNU Kraksaan.


"PCNU Kraksaan...!"


Serentak ribuan kader menjawab dengan suara menggema,


"Bangkit... Bersinergi... Bermanfaat...!"


Pekikan tersebut membelah langit Pantai Bentar, menjadi simbol tekad bulat seluruh kader untuk terus menjaga marwah Nahdlatul Ulama dan mengabdikan diri kepada umat, bangsa, dan negara.


Semangat itu kemudian diwujudkan melalui Gerakan LAZISNU CARE PCNU Kraksaan. Kotak infak bertuliskan "LAZISNU CARE PCNU KRAKSAAN" diedarkan ke seluruh peserta dengan iringan Shalawat An-Nahdliyah dari Jam'iyah Hadrah. Tanpa dikomando, ribuan kader dengan penuh keikhlasan menyisihkan sebagian rezekinya sebagai bentuk kepedulian sosial dan komitmen memperkuat gerakan filantropi Nahdlatul Ulama.


Rangkaian Apel Akbar Kader Penggerak Nahdlatul Ulama PCNU Kraksaan akhirnya ditutup dengan doa yang dipimpin oleh KH. Zuhri Zaini, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton. Dalam suasana penuh kekhusyukan, seluruh peserta menengadahkan tangan memohon keberkahan agar Nahdlatul Ulama senantiasa diberi kekuatan dalam menjaga agama, merawat persatuan bangsa, serta menghadirkan manfaat seluas-luasnya bagi umat manusia.


Apel Akbar ini menjadi bukti bahwa Nahdlatul Ulama tidak hanya besar karena sejarahnya, tetapi juga karena kader-kadernya yang terus bergerak, bersatu, dan berkhidmah tanpa lelah. Dari Pantai Bentar, semangat itu kembali diteguhkan: merawat tradisi, menguatkan persatuan, dan menghadirkan kemanfaatan demi Indonesia yang damai, maju, dan bermartabat.


Reporter : SS

Kontributor : SATGAS Kader Penggerak MWCNU Maron

Editor : Kabiro R-Semeru Kabupaten Probolinggo

×
Berita Terbaru Update