-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Siraman Rohani Kepala BDK Surabaya Menggetarkan 120 Peserta Diklat Kepala Madrasah dan Kepala RA

Thursday, 11 June 2026 | 19:58 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-11T12:58:54Z

 


R-Semeru.com | Kraksaan – Memasuki hari keempat pelaksanaan Diklat Penguatan Kompetensi Kepala Madrasah dan Kepala Raudhatul Athfal (RA) yang diselenggarakan di MAN 2 Pajarakan, Kabupaten Probolinggo, Kamis (11/06/2026), sebanyak 120 peserta mendapatkan suntikan motivasi, pencerahan spiritual, dan penguatan nilai-nilai kepemimpinan langsung dari Kepala Balai Diklat Keagamaan (BDK) Surabaya, KH. Dr. Muchammad Toha, S.Ag., M.Si.


Kegiatan yang berlangsung seusai istirahat, shalat, dan makan (Ishoma) tersebut menghadirkan suasana yang berbeda dari sesi-sesi sebelumnya. Kehadiran Kepala BDK Surabaya menjadi energi baru bagi para peserta yang terdiri dari Kepala Madrasah dan Kepala RA dari berbagai daerah. Turut mendampingi dalam kegiatan tersebut Kasi Pendidikan Madrasah (Pendma) Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo, Kepala MAN 2 Pajarakan, serta Tim BDK Surabaya.


Sebelum penyampaian arahan dan siraman rohaniyah dimulai, Kasi Pendma Kemenag Kabupaten Probolinggo, Dr. H. Muhammad As'adi, M.Pd.I., yang bertindak sebagai moderator, terlebih dahulu menyampaikan profil singkat dan rekam jejak Kepala BDK Surabaya. Pemaparan tersebut memberikan gambaran tentang dedikasi, pengalaman, dan kontribusi beliau dalam pengembangan pendidikan dan pelatihan keagamaan di Jawa Timur.


Memasuki sesi inti, KH. Dr. Muchammad Toha tampil dengan ciri khasnya yang komunikatif, santun, dan humoris. Candaan-candaan segar yang beliau lontarkan beberapa kali mengundang gelak tawa para peserta. Namun di balik humor tersebut tersimpan pesan-pesan mendalam yang mampu menembus hati dan membangkitkan semangat pengabdian para pemimpin madrasah.


Dalam arahannya, beliau menegaskan bahwa profesi guru merupakan profesi yang sangat tinggi, mulia, dan memiliki kedudukan istimewa di hadapan Allah SWT maupun dalam kehidupan bermasyarakat.


Suasana ruangan mendadak hening ketika beliau mengajak peserta merenungkan kemuliaan profesi guru melalui sebuah analogi sederhana namun sarat makna.


"Panjenengan semua tahu tidak, betapa tinggi dan mulianya posisi seorang guru? Guru itu sering dibentur-benturkan dengan berbagai profesi, bahkan dibanding-bandingkan dengan pejabat, presiden, menteri, hingga raja. Namun sesungguhnya, kemuliaan seorang guru tetap tidak tergantikan," ungkap beliau.


Beliau kemudian melontarkan pertanyaan kepada peserta.


"Posisi di atas guru disebut apa?"


"Dosen," jawab peserta serempak.


"Baik, kalau dosen itu lahir dari siapa?"


"Dari guru," jawab peserta kembali.


Dengan senyum khas yang mengundang rasa penasaran, beliau melanjutkan pertanyaan berikutnya.


"Kalau di atas dosen ada direktur atau pimpinan perguruan tinggi, lalu yang paling tinggi dalam dunia akademik disebut apa?"


"Guru Besar," jawab peserta hampir bersamaan.


Mendengar jawaban tersebut, beliau langsung memberikan penegasan yang membuat seluruh ruangan bergemuruh oleh tepuk tangan dan decak kagum.


"Nah, coba perhatikan. Mengapa namanya Guru Besar? Mengapa bukan Direktur Besar? Mengapa bukan Rektor Besar? Karena setinggi apa pun jenjang keilmuan seseorang, muaranya tetap kembali kepada satu kata yang sangat mulia, yaitu Guru."


Kalimat sederhana tersebut sontak membuat peserta tercengang sekaligus takjub. Banyak peserta tampak tersenyum, mengangguk-anggukkan kepala, dan larut dalam perenungan atas makna mendalam yang terkandung di dalamnya.


Menurut beliau, guru adalah fondasi lahirnya seluruh profesi di dunia. Tidak ada dokter tanpa guru, tidak ada insinyur tanpa guru, tidak ada hakim tanpa guru, tidak ada dosen tanpa guru, bahkan tidak ada presiden, menteri, ataupun raja yang mampu mencapai puncak kepemimpinannya tanpa sentuhan dan didikan seorang guru.


"Jangan pernah merasa kecil menjadi guru. Karena guru adalah profesi yang melahirkan seluruh profesi. Guru tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai, membentuk karakter, dan membangun peradaban bangsa," tegasnya.


Beliau juga mengingatkan bahwa kepala madrasah memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar dibanding sekadar mengelola administrasi lembaga. Kepala madrasah harus mampu menjadi pemimpin perubahan (agent of change), motor penggerak inovasi, serta teladan dalam membangun budaya kerja yang profesional, kolaboratif, dan berakhlakul karimah.


"Madrasah yang hebat tidak lahir semata karena bangunannya megah atau fasilitasnya lengkap. Madrasah hebat lahir dari guru-guru yang terus belajar, kepala madrasah yang mampu menginspirasi, serta seluruh warga madrasah yang memiliki visi yang sama untuk melahirkan generasi unggul, berprestasi, dan berakhlak mulia," pesannya.


Arahan yang disampaikan dengan bahasa sederhana namun penuh makna tersebut berhasil menyentuh hati para peserta. Tidak sedikit peserta yang mengaku mendapatkan energi baru, motivasi baru, dan perspektif baru tentang makna pengabdian sebagai pendidik dan pemimpin lembaga pendidikan.


Usai memberikan arahan dan siraman rohaniyah, kegiatan dilanjutkan dengan sesi dokumentasi bersama antara Kepala BDK Surabaya dan seluruh peserta diklat. Suasana penuh keakraban dan kekeluargaan tampak mewarnai sesi foto bersama tersebut. Dokumentasi kemudian dilanjutkan secara bergelombang per angkatan, dimulai dari Angkatan III, Angkatan II, hingga Angkatan I.


Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, para peserta kembali ke kelas masing-masing untuk mengikuti sesi pembelajaran berikutnya yang dipandu oleh para narasumber dari BDK Surabaya.


Kehadiran Kepala BDK Surabaya pada hari keempat diklat ini tidak hanya memberikan penguatan kompetensi kepemimpinan, tetapi juga menghadirkan pencerahan spiritual yang menyegarkan kembali ruh pengabdian para kepala madrasah dan kepala RA. Sebuah pesan sederhana namun membekas kuat di hati seluruh peserta: bahwa menjadi guru bukan sekadar profesi, melainkan jalan pengabdian mulia yang melahirkan para pemimpin, ilmuwan, dan penerus peradaban bangsa.


Reporter : SS

Kontributor : Kepala MAN 2 Pajarakan

Editor : Kabiro Kab/Kota Probolinggo

×
Berita Terbaru Update