-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Lestarikan Budaya Nusantara, Lomba Kerapan Sapi di Jember Sedot Perhatian Ratusan Peserta Lintas Daerah

Saturday, 12 September 2026 | 10:40 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-12T03:52:45Z


​R-SEMERU.COM | JEMBER – Dalam upaya melestarikan warisan budaya leluhur Jawa Timur sekaligus mempererat persatuan masyarakat, ajang Lomba Kerapan Sapi secara meriah digelar di Dusun Kebunan, Desa Tanggul Wetan, Kecamatan Tanggul, Kabupaten Jember pada Sabtu (12/9/2026).


​Ajang kompetisi budaya bergengsi ini berhasil menarik perhatian ratusan warga dan pencinta tradisi dari berbagai penjuru daerah. 


Sebanyak 125 pasang sapi kerapan berlaga menunjukkan kecepatan, kekuatan, hingga keindahan tata rias khas Jawa Timur yang memukau para penonton di arena.


​Kehadiran peserta yang melampaui batas wilayah Jember—seperti dari Lumajang, Probolinggo, hingga Bondowoso—mencerminkan tingginya antusiasme masyarakat terhadap salah satu identitas budaya nasional ini.


​Panitia Pelaksana, Abah Takur, mengapresiasi tinggi partisipasi lintas daerah yang memadati arena perlombaan. 



Menurutnya, ajang ini tidak hanya sekadar ajang unjuk kebolehan, tetapi juga sarana mempererat silaturahmi antarwarga.

​"Kami sangat bangga lomba ini diikuti peserta dari berbagai kabupaten di Jawa Timur. Selain menjaga tradisi, kegiatan ini menjadi wahana mempererat silaturahmi dan solidaritas antarwarga," ujar Abah Takur.


​Hal senada disampaikan oleh Ketua Pakar Sakera, Abah Tohir. Ia menegaskan pentingnya menjaga keberlanjutan tradisi lokal sebagai bagian dari kekayaan kebudayaan Indonesia. 


Diharapkan perlombaan ini dapat diselenggarakan dengan skala yang lebih besar pada tahun-tahun mendatang.


​Sementara itu, Penjabat (Pj) Sahibudin, S.A.P., menyampaikan rasa syukur atas melonjaknya jumlah peserta yang melebihi target awal panitia.

​"Alhamdulillah, antusiasme tahun ini sangat luar biasa. Dari target awal 60 peserta, melesat hingga 125 pasang sapi, di mana hampir separuhnya datang dari luar daerah. Ini membuktikan bahwa kerapan sapi bukan sekadar hiburan masyarakat, melainkan warisan budaya bangsa yang masih dicintai dan harus terus dilestarikan," tutur Sahibudin.


​Antusiasme warga yang memadati arena hingga akhir acara menjadi bukti nyata bahwa tradisi kerapan sapi tetap hidup dan berakar kuat di hati masyarakat. 


Panitia berharap dukungan serta partisipasi aktif warga dapat terus mengalir demi mendukung kelancaran ajang kebudayaan serupa di masa depan.



​Pewarta: Samsi / Slamet Raharjo

×
Berita Terbaru Update