-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

DALAM MILITER MAUPUN INTELIJEN ADA DIKTUM

Wednesday, 11 March 2026 | 17:19 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-11T10:19:29Z

 


R_Semeru.com I Jakarta - Kita yang pada masa orde baru mengalami langsung dampak militerisme yang memancar dalam cara pikir dan modus operandi para pejabat badan-badan resmi pemerintahan baik sipil maupun militer, memang dengan mudah akan curiga atau was-was ketika mendengar frase kata Siaga I. 


Dalam pengertiannya yang murni profesional di kemiliteran, tanpa dibingkai oleh militerisme ala orde baru, sejatinya memang merupakan kebijakan merespon situasi dan keadaan perang. Entah itu berasal dari luar negara, atau bisa juga dari dalam negeri sendiri. 


Dalam pengertiannya yang spesifik dari yang namanya Siaga I, tak ada kaitannya dengan kudeta atau pemberlakukan Darurat Sipil. Jadi sifatnya, preventif atau langkah-langkah pencegahan secara  taktis internal TNI. 


Berarti, kalau saya coba cermati tujuan strategis dan konsekwensi yang menyertainya, Siaga I malah untuk mengantisipasi timbulnya 

potensi dampak konflik di Timur Tengah terhadap stabilitas keamanan di Indonesia. 


Dalam militer maupun intelijen, ada diktum: Lebih baik bersiap amun tidak digunakan, daripada saat dibutuhkan kita tidak siap.


Kalau menyimak penjelasan Panglima TNI maupun Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais) TNI, kurang lebihnya memang seperti itu. 


Masalahnya di sini menurut saya ada dua. Pertama, masyarakat pada umumnya tidah tahu atau tidak paham tentang  ruang lingkup dan batasan perintah Siaga I yang diterapkan di lingkungan militer. Sehingga bergulirnya Kebijakan Panglima TNI menerapkan Siaga I, apalagi bukan pernyataan resmi yang dirilis ke pers, melainkan lewat bocoran, masuk akal jika muncul kecurigaan Siaga I merupakan prakondisi kudeta atau sebagai bingkai dari penerapan Darurat Sipil. 


Surat perintah itu tertuang dalam Telegram Panglima TNI Nomor TR/283/2026 yang ditandatangani oleh Asisten Operasi Panglima TNI Letjen Bobby Rinal Makmun.  Dari ketujuh instruksi kesiapsiagaan yang dikeluarkan, Seluruh instruksi dimaksudkan sebagai bentuk antisipasi terhadap perkembangan situasi global, khususnya memanasnya konflik di Timur Tengah. 


Saya kok malah membaca berita tersebut dari angle yang berbeda. Bukan soal kudeta atau prakondisi Darurat tatus Siaga 1 yang dikeluarkan Panglima TNI adalah instruksi operasional komando ke dalam (internal TNI)." Nah disinilah tujuan strategis maupun konsekwensi strategisnya malah kebaca di sini. 


Apalagi Kabais TNI Letnan Jenderal Yudi Abdimantyo menjelaskan bahwa TNI Siaga 1 merupakan  kebijakan yang diambil sebagai langkah antisipatif terhadap potensi dampak konflik di Timur Tengah terhadap stabilitas keamanan di Indonesia.


Perhatikan frase kata Dampak Konflik Timur Tengah terhadap stabilitas keamanan di Indonesia. Berita pikiran yang sengaja atau tak sengaja hendak disampaikan, berarti sisi rawan yang sesungguhnya bukan soal perang AS vs Iran yang lagi berlangsung dan yang secara geografis jauh dari negeri kita. 


Sisi rawannya adalah adanya potensi dualisme komando atau bahkan mungkin simpang-siur komando di hirarki dan mata-rantai komando jajaran internal kemiliteran itu sendiri. Dengan itu Siaga I, sejatinya dimaksudkan untuk melakukan sentralisasi komando supaya struktur komando kemiliteran tidak split. Maka perlu tema, seperti disampaikan Kabais TNI Letnan Jenderal Yudi Abdimantyo: . antisipasi terhadap perkembangan situasi global, khususnya memanasnya konflik di Timur Tengah.


Apakah ini untuk mengantisipasi adanya Skenario Nggeremet menjelang Mei 2026?


Oleh: Hendrajit, pengkaji geopolitik, Global Future Institute.

×
Berita Terbaru Update