R_Semeru.com I Jakarta - Sebagai informasi, impor minyak mentah Indonesia yang melewati Selat Hormuz hanya +/-20%, sehingga penutupan Hormuz tidak akan memutus pasokan nasional secara total.
Yang menarik disimak justru statement Bahlil yang tampak sengaja melempar angka “20 hari” sebagai penanda kerentanan.
Tujuannya?
Supaya publik melihat 'urgensi' dan menerima percepatan penguatan kerja sama energi dengan Amerika Serikat (ART)
Polanya kira-kira begini:
1. Angka “20 hari” dipakai sebagai perangkat framing komunikasi publik untuk membangun sense of urgency dan mempersempit ruang resistensi terhadap langkah cepat.
2. Sesudah framing terbentuk, arah kebijakan yang ditekankan mengarah ke AS. Narasi ART/reciprocal trade dijadikan payung: penyesuaian neraca dagang dilakukan lewat peningkatan pembelian energi dari AS.
3. Efek yang dikejar adalah realokasi volume impor, penguatan kontrak, dan jalur pasokan dari AS terlihat wajar dan mudah dipertanggungjawabkan atas nama ketahanan energi.
4. Di saat yang sama agenda swasembada tetap ditampilkan (RDMP, biodiesel, cadangan strategis) sebagai lapisan legitimasi, sementara langkah paling cepat tetap pivot ke AS.
Intinya, angka “20 hari” dapat dibaca sebagai upaya mengarahkan opini publik agar penguatan kerja sama energi Indonesia–AS tampak sebagai kebutuhan strategis, bukan sekadar manuver dagang.
Untuk diketahui harga dasar minyak dari Amerika Serikat sendiri lebih mahal sekitar $2-10 per barrel (tergantung harga pasar) dibanding yang kita beli di Timur Tengah karena beda kualitas.
Ada lagi tambahan biaya untuk pengangkutan lebih dari 2x lipat karena jarak lebih jauh.
Jelas disini Bahlil menang banyak, harga BBM akan melambung tinggi dan para pengguna BBM akan tercekik. Sialan kau Bahlil!
Untuk membuktikannya, silakan pantau berita terkait di beberapa hari ke depan.
Kontributor: Hagia Sofia
