-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Ketua Umum FORJI: Idiologi PANCASILA sebagai Kompas Moral dalam Menghadapi Tantangan Modernisasi

Monday, 1 June 2026 | 11:19 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-01T04:19:29Z



R_Semeru.com | Lumajang - Hari Lahir Pancasila diperingati setiap tanggal 1 Juni dan ditetapkan sebagai hari libur nasional di Indonesia. Momen ini merujuk pada sidang Dokuritsu Junbi Cosakai (BPUPKI) pada 1 Juni 1945, di mana Presiden Soekarno pertama kali menyampaikan gagasan dan konsep awal dasar negara yang dinamai Pancasila.


Berikut adalah rangkuman sejarah dan makna Hari Lahir Pancasila: Sejarah Singkat: Pada 1 Juni 1945, Ir. Soekarno berpidato di hadapan sidang BPUPKI.


Dalam pidato tersebut, Ir. Soekarno mengusulkan lima prinsip dasar negara Indonesia merdeka, yang terdiri dari: 

Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau Peri Kemanusiaan, Mufakat atau Demokrasi, Kesejahteraan Sosial, dan Ketuhanan Yang Maha Esa.


Tanggal 1 Juni secara resmi ditetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 24 Tahun 2016 oleh Presiden Joko Widodo, sekaligus menjadikannya sebagai hari libur nasional.


Ketum FORJI Lumajang Bawon Sutrisno, S.Sos mengatakan bahwa setiap tahunnya, instansi pemerintah hingga masyarakat luas memperingati hari bersejarah ini dengan mengadakan upacara bendera, serta menggelar berbagai kegiatan untuk merefleksikan nilai-nilai gotong royong, toleransi, dan persatuan.


"Peringatan ini menjadi momentum bagi masyarakat untuk mengamalkan nilai gotong royong dan menjaga keragaman, menjadikan idiologi ini sebagai kompas moral dalam menghadapi tantangan modernisasi dan mewujudkan cita-cita bangsa," kata Bawon, pada media ini, Senin(1-Juni-2026). 


Berdasarkan momentum tersebut, ada poin-poin penting yang sangat relevan untuk diterapkan di kehidupan bermasyarakat. 

"Pancasila sebagai pemersatu di tengah perbedaan dan menjadikan nilai Ketuhanan hingga keadilan sosial sebagai pondasi untuk saling menghargai antar sesama, menolak perpecahan, relevansi di Era Modern," jelas Bawon. 


Menurut Bawon, refleksi tersebut menuntut masyarakat untuk bijak dalam menggunakan tehnologi, menyaring informasi, dan menghindari polarisasi sosial agar persatuan tetap utuh. 


Ketum FORJI mengajak seluruh masyarakat untuk mengamalkan nilai Pancasila melalui sikap jujur, saling menghargai dan mengedepankan toleransi dalam keragaman suku dan budaya di NKRI tercinta.


Reporter: alief

×
Berita Terbaru Update