R-SEMERU.COM | Probolinggo – Di tengah derasnya arus transformasi pendidikan di era digital, MA Plus Taruna Islam Al-Kautsar kembali menghadirkan inovasi dalam membangun budaya organisasi melalui Rapat Bulanan Dewan Guru dengan skema Homeeting. Berbeda dari rapat konvensional, konsep ini dilaksanakan secara bergilir di kediaman para guru sebagai ikhtiar mempererat ukhuwah, membangun komunikasi yang lebih hangat, serta memperkokoh solidaritas antarsivitas madrasah.
Rapat kali ini dilaksanakan di kediaman Ustadzah Siti Aminah, S.Pd., Desa Liprak Kulon Kecamatan Gending Kabupaten Probolinggo, beliau menjabat sebagai Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum, Rapat di mulai dari pukul 09.30 WIB hingga selesai, dan dipimpin langsung oleh Kepala Madrasah Ustad Shaleh, S.Pd.I., M.Pd. Ahad, 2/08/2026.
Mengawali seluruh rangkaian kegiatan, para guru bersama-sama melaksanakan Istighotsah dan Tahlil, kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin langsung oleh Kepala Madrasah. Suasana khidmat yang menyelimuti forum menjadi pengingat bahwa setiap langkah membangun madrasah harus diawali dengan memohon pertolongan Allah SWT. Sebab, kecanggihan teknologi dan kemajuan program tidak akan bermakna tanpa keberkahan doa serta keikhlasan dalam mengemban amanah pendidikan.
Kontrak Kerja Guru, Pilar Disiplin dan Profesionalisme
Memasuki agenda kedinasan, Kepala Madrasah menyampaikan evaluasi pelaksanaan Kontrak Kerja Guru serta implementasi SOP Guru Izin Tidak Masuk.
Beliau menegaskan bahwa kontrak kerja bukan sekadar dokumen administratif, melainkan komitmen moral dan profesional yang harus diwujudkan dalam sikap, disiplin, integritas, dan kualitas pelayanan kepada peserta didik.
"Madrasah yang maju tidak dibangun oleh aturan semata, tetapi oleh guru-guru yang memiliki komitmen untuk menepati amanah. Disiplin bukanlah beban, melainkan identitas seorang pendidik profesional. Ketika setiap guru mampu menjaga komitmennya, maka kepercayaan masyarakat kepada MAPTIA akan semakin kuat," tegas beliau.
Evaluasi SOP Guru Izin Tidak Masuk juga menjadi perhatian khusus. Kepala Madrasah mengajak seluruh guru agar menjadikan prosedur tersebut sebagai budaya organisasi yang menjunjung tinggi tanggung jawab, komunikasi yang baik, serta penghormatan terhadap sistem yang telah disepakati bersama.
Digitalisasi Madrasah: Guru Harus Menguasai AI, Bukan Dikalahkan AI
Agenda berikutnya membahas penguatan Digitalisasi Madrasah melalui pelatihan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam pembelajaran menggunakan akun Google Workspace for Education (GWS) Kementerian Agama.
Kepala Madrasah menegaskan bahwa perkembangan teknologi, khususnya AI, merupakan peluang besar yang harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
"Era digital telah mengubah wajah pendidikan. Guru tidak boleh menjadi penonton di tengah revolusi teknologi. AI bukan untuk menggantikan guru, tetapi menjadi mitra yang membantu guru bekerja lebih kreatif, lebih efektif, dan lebih inovatif. Guru yang terus belajar akan selalu relevan di setiap zaman."
Pelatihan ini diharapkan mampu meningkatkan kompetensi digital guru sehingga proses pembelajaran di MAPTIA semakin adaptif, interaktif, dan sesuai dengan kebutuhan generasi masa kini.
LDK OSIM, Menyiapkan Pemimpin Masa Depan
Memasuki sesi diskusi, Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan, Ustadzah Nurul Himmah, M.Pd., memaparkan konsep Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) OSIM beserta penyusunan program kerja organisasi siswa.
Beliau menekankan bahwa OSIM bukan hanya organisasi pelengkap di madrasah, tetapi laboratorium kepemimpinan yang akan melahirkan kader-kader muda yang visioner, berintegritas, dan berakhlakul karimah.
"Setiap pemimpin besar selalu berawal dari proses pembinaan yang baik. Melalui LDK, kita ingin mencetak siswa yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga mampu memimpin, bekerja sama, menyelesaikan masalah, serta menjadi teladan bagi teman-temannya."
Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai masukan dari dewan guru demi menyempurnakan program kerja OSIM agar lebih inovatif, produktif, dan berdampak nyata bagi kehidupan madrasah.
Membangun Budaya Disiplin Melalui SOP Siswa
Masih dipimpin oleh Ustadzah Nurul Himmah, forum kemudian membahas penyusunan Tata Tertib Siswa, khususnya SOP Siswa Izin Tidak Masuk.
Beliau menjelaskan bahwa aturan tersebut bukan bertujuan membatasi peserta didik, melainkan membangun karakter disiplin, tanggung jawab, dan kejujuran sejak dini.
"Disiplin bukan lahir karena hukuman, tetapi karena kesadaran. Ketika siswa terbiasa menghargai aturan, mereka sedang belajar menghargai waktu, amanah, dan masa depan mereka sendiri."
Para guru menyambut positif pembahasan tersebut sebagai langkah nyata membangun budaya madrasah yang lebih tertib, humanis, dan berkarakter.
Pengisian Sulingjar, Komitmen Meningkatkan Mutu Pendidikan
Setelah seluruh agenda diskusi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pengisian Survei Lingkungan Belajar (Sulingjar) yang dipandu oleh Operator Madrasah, Ustadz Riski Hadi Suhendra, S.Pd.
Dengan sabar dan sistematis, beliau membimbing seluruh guru dalam proses pengisian agar berjalan lancar sesuai ketentuan.
Pengisian Sulingjar dipandang bukan sekadar memenuhi kewajiban administrasi, tetapi menjadi instrumen penting untuk memotret kualitas lingkungan belajar sekaligus bahan evaluasi dalam meningkatkan mutu pendidikan di MAPTIA.
Karena keterbatasan waktu, seluruh guru sepakat melanjutkan penyelesaian pengisian Sulingjar secara mandiri dari rumah masing-masing agar seluruh data dapat diselesaikan secara optimal tanpa mengurangi kualitas isian.
Menutup Ikhtiar dengan Doa dan Semangat Kebersamaan
Menjelang berakhirnya kegiatan, Kepala Madrasah kembali memimpin doa bersama.
Dalam suasana penuh kekhusyukan, seluruh dewan guru menengadahkan tangan memohon kepada Allah SWT agar setiap program yang telah direncanakan diberi kemudahan, keberkahan, serta membawa manfaat besar bagi madrasah dan peserta didik.
Doa yang dipanjatkan menjadi pengingat bahwa setiap ikhtiar akan menemukan kekuatannya ketika disandarkan kepada Allah SWT. Semoga seluruh guru senantiasa diberikan kesehatan, keikhlasan, keluasan ilmu, serta istiqamah dalam mendidik generasi penerus bangsa.
Sebagai penutup, dilaksanakan pengundian tuan rumah rapat bulanan berikutnya, dan berdasarkan hasil undian disepakati bahwa Homeeting selanjutnya akan diselenggarakan di kediaman Ustadz Riski Hadi Suhendra, S.Pd., selaku Operator Madrasah, di Desa Kalianan, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo.
Rapat bulanan dengan skema Homeeting kembali membuktikan bahwa budaya kerja MAPTIA tidak hanya dibangun melalui rapat formal, tetapi juga melalui kebersamaan, ukhuwah, dan komunikasi yang hangat. Dengan memadukan nilai-nilai spiritual, profesionalisme, inovasi digital, serta semangat kekeluargaan, MA Plus Taruna Islam Al-Kautsar terus meneguhkan komitmennya sebagai Madrasah Digital, Hebat Bermartabat, yang siap melahirkan generasi unggul, berakhlak mulia, adaptif terhadap perkembangan teknologi, dan mampu menjadi pelopor perubahan di tengah masyarakat.
Reposter : SS
Kontributor : Waka Kurikulum
Editor : Kabiro Kab/kota Probolinggo

