-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Rapat Wali Murid MAPTIA Kraksaan Tekankan Transparansi Anggaran dan Penguatan Kolaborasi Pendidikan

Thursday, 13 August 2026 | 08:08 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-13T01:08:18Z

 


R-SEMERU.COM | Probolinggo — MA Plus Taruna Islam Al-Kautsar (MAPTIA) Kraksaan memperkuat sinergi antara madrasah dan orang tua siswa melalui Rapat Koordinasi dan Silaturahmi Wali Murid Kelas X, XI, dan XII Tahun Pelajaran 2026/2027, Rabu (12/8/2026).


Bertempat di Ruang Kelas XI MAPTIA, pertemuan tersebut tidak hanya membahas agenda pendidikan dan kebutuhan pembiayaan selama satu tahun pelajaran, tetapi juga menjadi forum untuk membangun komunikasi yang lebih terbuka, membentuk kepengurusan baru Paguyuban Wali Murid, serta menyepakati sejumlah agenda melalui mekanisme musyawarah.


Pertemuan yang berlangsung dalam suasana kekeluargaan tersebut menegaskan pentingnya keterlibatan orang tua dalam proses pendidikan. Madrasah dan keluarga dinilai memiliki peran yang saling melengkapi dalam membentuk karakter, kedisiplinan, prestasi, dan masa depan peserta didik.


Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan oleh Ustadzah Nurul Himmah, M.Pd, yang juga menjabat sebagai Waka Kesiswaan. Pembukaan diawali dengan pembacaan Surah Al-Fatihah secara bersama-sama, sebelum kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dan pengarahan Kepala Madrasah, Ustadz Shaleh, S.Pd.I., M.Pd.



Dalam arahannya, Kepala Madrasah menempatkan wali murid sebagai bagian penting dari ekosistem pendidikan MAPTIA. Menurutnya, hubungan antara madrasah dan orang tua tidak semestinya hanya berlangsung ketika terdapat urusan administrasi, persoalan siswa, maupun kegiatan tertentu. Hubungan tersebut harus berkembang menjadi kemitraan yang berkelanjutan.


“Bapak dan Ibu bukan hanya wali dari anak-anak yang belajar di MAPTIA. Bapak dan Ibu adalah bagian dari keluarga besar lembaga ini. Karena itu, mari kita bangun hubungan bukan sekadar administratif, tetapi hubungan kekeluargaan, komunikasi, dan kolaborasi untuk kepentingan pendidikan anak-anak kita,” ujar nya.


Ia menegaskan, keberhasilan pendidikan tidak mungkin dicapai apabila madrasah bekerja sendirian. Guru memiliki tanggung jawab mendidik di lingkungan madrasah, sementara orang tua mempunyai peran besar dalam memastikan nilai-nilai tersebut tumbuh dan menjadi kebiasaan di rumah.


“Kalau madrasah berjalan sendiri, hasilnya tidak akan maksimal. Begitu juga kalau orang tua berjalan sendiri. Anak membutuhkan kesinambungan pendidikan antara rumah dan madrasah. Karena itu, kita harus berjalan bersama, saling mendukung, saling mengingatkan, dan saling menguatkan,” tegasnya.


Kepala Madrasah juga menyampaikan bahwa pertemuan wali murid merupakan bagian dari upaya mempererat silaturahmi, menyamakan persepsi, membangun komunikasi dua arah, sekaligus membuka ruang kolaborasi dalam pengembangan MAPTIA.


Menurutnya, orang tua tidak cukup hanya menyerahkan pendidikan anak kepada madrasah. Sebaliknya, madrasah juga harus membuka ruang partisipasi dan komunikasi dengan keluarga.


“Yang kita bangun bukan hanya sekolah yang baik, tetapi ekosistem pendidikan yang baik. Anak-anak kita harus mendapatkan pendidikan yang sejalan antara apa yang mereka terima di madrasah dan apa yang mereka lihat serta rasakan di rumah,” ungkapnya.


Ia berharap hubungan yang semakin erat antara madrasah dan wali murid dapat menjadi modal sosial untuk mengembangkan MAPTIA sebagai lembaga pendidikan yang religius, berkarakter, profesional, adaptif terhadap perkembangan zaman, sekaligus tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman.


Bendahara Paparkan Rincian Anggaran, MAPTIA Kedepankan Transparansi


Salah satu agenda utama dalam pertemuan tersebut adalah pemaparan rincian anggaran pendidikan dan berbagai kebutuhan pendidikan siswa selama satu tahun pelaksanaan KBM. Pemaparan ini disampaikan oleh Bendahara Madrasah, Ustadz Muhammad Mikail El Furqon, S.Pd.


Agenda tersebut menjadi bagian penting dari upaya madrasah memberikan pemahaman yang utuh kepada wali murid mengenai kebutuhan pembiayaan pendidikan selama Tahun Pelajaran 2026/2027.


Berbagai kebutuhan yang berkaitan dengan keberlangsungan kegiatan belajar mengajar, pelayanan peserta didik, program pendidikan, serta kebutuhan operasional madrasah dijelaskan dalam forum tersebut.


Transparansi dipandang penting untuk mencegah terjadinya kesalahpahaman dan perbedaan persepsi di antara wali murid.


“Kami ingin wali murid mendapatkan informasi yang jelas dan utuh. Ketika rincian kebutuhan pendidikan disampaikan secara terbuka, maka orang tua dapat memahami bahwa setiap komponen pembiayaan memiliki kebutuhan dan peruntukannya masing-masing,” ungkapnya.


Ia menambahkan, keterbukaan informasi bukan hanya menyangkut persoalan angka, tetapi juga merupakan bagian dari membangun kepercayaan antara madrasah dan wali murid.


“Prinsipnya sederhana: apa yang menyangkut kepentingan pendidikan anak-anak kita harus dikomunikasikan dengan baik. Dengan keterbukaan, kita berharap tidak muncul kecemburuan sosial, prasangka, ataupun informasi yang tidak lengkap,” ujarnya.


Menurutnya, komunikasi secara langsung menjadi salah satu cara terbaik untuk menghindari berkembangnya asumsi di luar forum resmi.


“Lebih baik kita duduk bersama, bertanya, menjelaskan, dan mencari solusi bersama daripada membiarkan ruang kosong diisi oleh persepsi yang belum tentu benar,” tambahnya.


Paguyuban Wali Murid Diharapkan Menjadi Jembatan Komunikasi


Agenda berikutnya adalah pembentukan Pengurus Baru Paguyuban Wali Murid Tahun Pelajaran 2026/2027. Proses pembentukan dipandu oleh Ustadzah Romlatun Nahdliyah, S.Pd, selaku Guru BK sekaligus Wali Kelas X.


Dalam forum tersebut, paguyuban tidak diarahkan sekadar menjadi organisasi formal orang tua siswa. Lebih jauh, keberadaannya diharapkan menjadi jembatan komunikasi dan ruang kolaborasi antara wali murid dengan madrasah.


Ustadzah Diyah sapaan akrabnya menilai, keberadaan paguyuban sangat penting karena persoalan pendidikan tidak dapat diselesaikan hanya melalui komunikasi individual. Dibutuhkan wadah yang mampu menghimpun aspirasi dan kepedulian wali murid secara konstruktif.


“Paguyuban ini kita harapkan bukan hanya nama atau struktur kepengurusan. Yang lebih penting adalah bagaimana paguyuban menjadi ruang komunikasi, silaturahmi, dan kolaborasi antara wali murid dengan madrasah untuk mendukung perkembangan anak-anak,” tuturnya.


Ia berharap pengurus baru dapat membangun komunikasi yang sehat, tidak hanya ketika muncul persoalan, tetapi juga ketika terdapat peluang untuk mengembangkan berbagai program positif bagi peserta didik.


“Kita ingin membangun budaya komunikasi yang tidak menunggu masalah muncul. Kalau ada gagasan, disampaikan. Kalau ada persoalan, dibicarakan. Kalau ada program yang baik, kita dukung bersama,” Ujarnya.


Melalui proses musyawarah, wali murid memberikan amanah kepada Dewi Kamelia sebagai Ketua Paguyuban Wali Murid MA Plus Taruna Islam Al-Kautsar Tahun Pelajaran 2026/2027. Dengan terpilihnya Ibu Dewi Kamelia diharapkan mampu membawa paguyuban menjadi mitra strategis madrasah sekaligus wadah yang dapat memperkuat komunikasi antarwali murid.


Dewi Kamelia: Paguyuban Harus Menjadi Ruang Kebersamaan


Usai mendapatkan amanah sebagai Ketua Paguyuban Wali Murid, Dewi Kamelia menekankan pentingnya menjaga kebersamaan dan komunikasi di antara orang tua siswa.


Ia berharap paguyuban tidak hanya aktif dalam kegiatan tertentu, tetapi mampu menjadi wadah yang memberikan kontribusi nyata terhadap perkembangan pendidikan peserta didik.


“Amanah ini tentu bukan sesuatu yang ringan. Saya berharap kita semua bisa saling mendukung dan membangun komunikasi yang baik. Paguyuban bukan milik ketuanya, tetapi milik seluruh wali murid. Karena itu, keberhasilannya sangat bergantung pada kebersamaan kita,” ungkap Dewi.


Ia juga mengajak seluruh wali murid untuk tidak menjadikan perbedaan pendapat sebagai penghalang dalam membangun kerja sama.


“Kita mungkin memiliki cara pandang yang berbeda, tetapi tujuan kita sama, yaitu memberikan yang terbaik bagi anak-anak. Perbedaan seharusnya menjadi bahan untuk bermusyawarah, bukan alasan untuk menjauh,” ujarnya.»


Waka Kurikulum Buka Ruang Dialog dan Tanya Jawab


Setelah pembentukan paguyuban, kegiatan dilanjutkan dengan musyawarah dan sesi tanya jawab yang dipandu oleh Waka Kurikulum, Ustadzah Siti Aminah, S.Pd. Forum tersebut menjadi ruang bagi wali murid untuk menyampaikan pertanyaan, tanggapan, masukan, maupun hal-hal yang membutuhkan penjelasan lebih lanjut terkait pelaksanaan pendidikan.


Siti Aminah menekankan bahwa komunikasi dua arah antara madrasah dan orang tua merupakan bagian penting dalam menjaga kualitas layanan pendidikan.


“Forum seperti ini sangat penting karena madrasah tidak boleh hanya menyampaikan informasi satu arah. Kami juga perlu mendengar suara, pertanyaan, dan masukan dari wali murid. Dari situlah kita bisa melakukan evaluasi dan perbaikan,” jelas Siti Aminah.


Menurutnya, musyawarah bukan berarti semua pihak harus memiliki pendapat yang sama sejak awal. Yang terpenting adalah adanya kesediaan untuk mendengarkan dan mencari titik temu berdasarkan kepentingan peserta didik.


“Tidak harus semua pemikiran sama. Yang harus sama adalah komitmen kita untuk mencari keputusan terbaik bagi pendidikan anak-anak,” tegasnya.»


INFAQ KBM Diputuskan Melalui Musyawarah Mufakat


Pembahasan kemudian memasuki agenda penetapan keputusan hasil musyawarah mengenai INFAQ KBM Tahun Pelajaran 2026/2027.


Kepala Madrasah memimpin proses penetapan berdasarkan hasil pembahasan dan musyawarah bersama.


Proses tersebut menjadi bagian dari komitmen MAPTIA untuk mengedepankan prinsip musyawarah, keterbukaan, kebersamaan, dan tanggung jawab bersama dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan.


Dalam konteks tersebut, dukungan wali murid tidak semata-mata dipandang dari aspek finansial. Dukungan moral, komunikasi, kepedulian, partisipasi, serta kepercayaan kepada madrasah juga menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem pendidikan.


Kepala Madrasah kembali menegaskan bahwa seluruh proses tersebut bermuara pada satu kepentingan utama, yakni keberlangsungan dan peningkatan kualitas pendidikan peserta didik.


“Apa pun yang kita bicarakan hari ini, ujungnya tetap satu: anak-anak kita. Kita tidak sedang sekadar membicarakan program atau anggaran. Kita sedang membicarakan bagaimana pendidikan mereka bisa berjalan dengan baik dan bagaimana masa depan mereka kita siapkan bersama,” Pungkasnya.


Menjelang akhir kegiatan, MC menyampaikan kesimpulan atas berbagai hasil pembahasan dan kesepakatan yang telah dicapai. Pertemuan kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin langsung oleh Kepala Madrasah.


Rapat koordinasi dan silaturahmi tersebut menjadi penanda bahwa hubungan madrasah dengan wali murid di MAPTIA terus diarahkan menuju pola kemitraan yang lebih terbuka dan partisipatif. Bagi madrasah, orang tua bukan sekadar pihak yang menerima laporan perkembangan anak. Mereka merupakan mitra yang memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter dan masa depan peserta didik. Sebaliknya, bagi orang tua, madrasah bukan hanya tempat anak mendapatkan pelajaran akademik, tetapi juga lingkungan yang ikut membentuk cara berpikir, karakter, kedisiplinan, akhlak, dan kesiapan mereka menghadapi masa depan.


Dari pertemuan tersebut muncul satu kesadaran yang sama:


1. Pendidikan tidak akan kuat jika madrasah dan keluarga berjalan sendiri-sendiri.


2. Madrasah membutuhkan dukungan orang tua. Orang tua membutuhkan komunikasi dan kejelasan dari madrasah. Sementara peserta didik membutuhkan keduanya sebagai fondasi untuk tumbuh dan berkembang.


Karena itu, Rapat Koordinasi dan Silaturahmi Wali Murid MAPTIA tidak berhenti sebagai agenda administratif. Forum tersebut menjadi ruang untuk membangun kepercayaan, membuka komunikasi, menyatukan persepsi, memperkuat kolaborasi, dan menyatukan langkah. Sebab, pada akhirnya, masa depan peserta didik tidak dibentuk oleh satu tangan. Akan tetapi Ia dibentuk oleh tangan-tangan yang memilih untuk bekerja bersama.


Dan dari Ruang Kelas XI MAPTIA pada Rabu, 12 Agustus 2026, pesan itu kembali ditegaskan:


“Boleh berbeda latar belakang, berbeda pemikiran, dan berbeda cara pandang. Tetapi ketika berbicara tentang masa depan anak-anak, kita harus berdiri di barisan yang sama.”


MediaMAPTIA — Madrasah Digital, Hebat Bermartabat.


Reporter : SS

Kontributor : Waka Kesiswaan

Editor: Kabiro Kab/kota Probolinggo

×
Berita Terbaru Update