Foto: Kanjeng Kyai Abdul Majid Ali Fikri, RA PENGASUH PERJUANGAN WAHIDIYAH DAN PONDOK PESANTREN KEDUNGLO KEDIRI, JATIM
R_SEMERU.COM | LUMAJANG - Pembahasan mengenai kedudukan Tawassul dan peran Guru Ruhani (Mursyid Kamil Mukamil) kembali menjadi sorotan penting dalam peta pemikiran Islam sufi internasional. Melalui literatur-literatur klasik karangan para ulama kenamaan dunia, ditegaskan bahwa jalur perantara ruhani merupakan fondasi utama bagi seorang hamba dalam menempuh perjalanan batin untuk mencapai derajat fana’ (lebur) dan ma'rifatullah.
Dalam pemikiran yang dirangkum dari karya ulama besar dunia seperti Syekh Yusuf an-Nabhani dalam kitab Sa'adah dan Syekh Ahmad ash-Shawi dalam Hasyiyah Shawi, dijelaskan secara tegas mengenai pentingnya kedudukan Rasulullah SAW serta para pewarisnya. Kedua ulama tersebut menyatakan:
من توجه وتقرب الى الله دون التوسل به صلى الله عليه وسلم ضل سعيه وخسر عمله
"Barang siapa mendekat dan menghadap kepada Allah SWT tanpa berperantara dengan Rasulullah SAW, maka tersesat jalannya serta merugi amalnya."
Kedudukan ini menegaskan bahwa Al-Ghauts—sebagai derajat tertinggi di antara para wali Allah—merupakan pewaris kenabian yang melanjutkan tugas bimbingan spiritual.
Keberadaan mereka berfungsi sebagai wasilah (perantara) tempat bertawasulnya para makhluk untuk memohon pertolongan dan menyelesaikan berbagai hajat batiniah maupun lahiriah.
Landasan Dalil dan Pengakuan Ulama Klasik
Landasan mengenai legitimasi mencari perantara spiritual ini didukung oleh sejumlah hadis dan rujukan kitab-kitab muktabar di antaranya Mafahim Yajib an Tushahhah karya Syekh As-Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki, Tahrir ad-Durar, Lawaqih al-Anwar karya Syekh Abdul Wahhab asy-Sya'rani, hingga Dalail an-Nubuwwah karya Imam al-Baihaqi.
Salah satu dalil riwayat At-Thabrani dan Abu Ya'la menekankan anjuran Rasulullah SAW ketika seseorang berada dalam kesulitan:
إذأضل أحدكم ثيئاأوأرادعونافى الارض ليس فيه أنيس فليقل ياعبادالله أعينونى
"Jika kamu semua tersesat tentang sesuatu atau menginginkan pertolongan di atas bumi, yang di tempat itu tidak ada penolong, maka berkatalah: 'Wahai hamba-hamba Allah (kekasih Allah), tolonglah kami!'"
Selain itu, Syekh Al-Maliki mengutip dalil yang menjelaskan fungsi khusus hamba-hamba pilihan tersebut:
إن لله خلقا خلقهم الله لحوئج الناس ويفزع إليهم الناس فى حوائجهم
"Sesungguhnya Allah SWT memiliki hamba yang diciptakan khusus untuk memenuhi kebutuhan manusia, dan manusia meminta tolong kepada mereka dalam segala hajatnya."
Tahapan Integrasi Ruhani Menuju Lebur kepada Allah
Para ahli hakikat menyimpulkan bahwa proses tawassul kepada Guru Ruhani yang Kamil Mukamil bertindak sebagai jembatan penuntun yang membawa seorang salik (penempuh jalan batin) melalui tiga tahapan pencapaian:
Fana' fi asy-Syaikh: Menyerap keberkahan dan meneladani kesucian batin sang guru guna mengikis tipu daya nafsu dan ego diri.
Fana' fi ar-Rasul: Menghubungkan batin yang telah bersih kepada kecintaan murni dan hakikat Nur Muhammad SAW.
Fana' fi Allah: Puncak perjalanan di mana hamba melepaskan keakuan dirinya dan mencapai kesadaran penuh akan keagungan Allah SWT.
Melalui pendekatan ini, para ulama lintas negara terus mengingatkan umat Islam untuk tidak mengabaikan pentingnya bimbingan wasilah ruhani, guna menjaga pemahaman agama agar tetap lurus dan terhindar dari kesesatan spiritual.
Penulis: Bawon Sutrisno, S.Sos
