Foto: Kanjeng Kyai Abdul Majid Ali Fikri, RA. Pengasuh Perjuangan Wahidiyah & PP Kedunglo Kediri Jawa-Timur, Indonesia
R_Semeru.com | Lumajang — Fenomena pencarian puncak kesadaran ilahiah—yang dalam tradisi tasawuf dikenal sebagai Dzauq Bihaqiqillah serta fase kelenyapan diri (Fana')—kini menjadi sorotan utama para ahli spiritual dan pengamat budaya internasional.
Perjalanan mistis menuju makrifat ini memperlihatkan evolusi metode yang dramatis, menjembatani gaya asetik klasik era Nusantara kuno dengan metodologi praktis era modern.
Secara historis, pencapaian puncak tauhid Billah memodelkan disiplin fisik ekstrem.
Catatan sejarah Sunan Kalijaga menunjukkan bagaimana seorang putra adipati meninggalkan takhta, kekayaan, dan masa lalunya yang kelam demi menjalani tapa brata berbulan-bulan di tepi sungai.
Di bawah bimbingan ketat Sunan Bonang, ketabahan fisik dan mental tersebut dilakukan hanya untuk meruntuhkan ke-AKU-an dan menembus rahasia spiritual titik Ba'—sebuah simbol bahwa tiada daya dan wujud selain perbuatan Allah semata.
Namun, pengamatan global terhadap gerakan spiritual Wahidiyah menunjukkan adanya terobosan metodologis (kaifiyah) yang dinilai relevan dengan dinamika manusia modern.
Melalui bimbingan Guru Ruhani Kamil Mukamil, penempuhan jalan suluk yang dahulunya membutuhkan pengasingan diri ekstrem, kini ditransformasikan menjadi metode yang inklusif dan terstruktur.
Para pengamal Wahidiyah mengendalikan hawa nafsu bukan dengan mematikan fungsi fisik, melainkan menjadikannya kendaraan untuk menuju Dzat Maha Hidup (Ushul).
Senjata utamanya terletak pada konsistensi Mujahadah Sholawat Wahidiyah—seperti program riyadhah 40 hari yang dianggap sebagai "maskawin" penyucian jiwa (tazkiyatun nafs).
Melalui doktrin inti Lillah-Billah (segala hal dari dan untuk Allah) serta Lirrosul-Birrosul (penyambungan rasa kepada Rasulullah), para pejalan spiritual (salik) dibimbing untuk mengikis hijab batin secara cepat tanpa harus meninggalkan aktivitas harian mereka.
Para peneliti spiritualitas Timur menilai bahwa meski bentuk riyadhah antara era Sunan Kalijaga dan Wahidiyah berbeda secara lahiriah, esensi pencapaiannya tetap melintasi batas yang sama:
Sebuah kondisi fana' di mana ego manusia lebur, melahirkan pribadi yang memiliki ketajaman iman Dzauq Bihaqiqillah di tengah kompleksitas dunia modern.
Penulis: Bawon Sutrisno, S.Sos
