R_Semeru.com | Lumajang — Pemikiran esoteris dalam sejarah peradaban Islam terus menjadi topik diskusi mendalam di kalangan akademisi, pemikir muslim, dan praktisi tasawuf global.
Salah satu doktrin mistik yang paling monumental dalam sejarah spiritualitas Islam adalah konsep "Laa Maujuda Illallah"—sebuah ungkapan Tauhid Hakiki yang meyakini bahwa tidak ada wujud yang sejati selain Allah Swt., yang akar pemikirannya erat kaitannya dengan tokoh sufi abad ke-9, Abu al-Mughits al-Husain bin Manshur al-Hallaj atau Al-Hallaj Al-Baghdadi.
Dalam kajian filsafat Islam internasional, Al-Hallaj dikenal lewat formulasi doktrin Hulul dan ucapan fenomenalnya (Shatahat), "Ana al-Haqq" (Akulah Kebenaran/Allah).
Konsep ini bukan sekadar kajian teoritis, melainkan sebuah kedalaman pengalaman spiritual yang membedakan antara Wujud Hakiki yang mutlak milik Sang Pencipta dan Wujud Semu (Majazi) yang melekat pada makhluk.
Menurut pandangan para ulama tasawuf, Al-Hallaj mengajarkan bahwa manusia memiliki dua dimensi dalam dirinya, yakni Lahut (sifat keilahian) dan Nasut (sifat kemanusiaan).
Melalui penyucian jiwa yang intensif (Tazkiyatun Nafs) dan zikir mendalam, seorang hamba dapat mencapai tingkatan Fana'—yaitu kondisi ketika kesadaran akan diri sendiri sirna, sehingga sifat kemanusiaannya melebur dan yang tersisa hanyalah penyaksian atas Wujud Ilahi.
Meskipun pemikiran ini menjadi pilar penting dalam evolusi doktrin kesatuan wujud—yang kelak disistematisasikan oleh Ibnu 'Arabi melalui Wahdatul Wujud—rekam jejak sejarah mencatat bahwa gagasan Al-Hallaj sempat memicu kontroversi besar.
Bahasa metafora mistis yang digunakan Al-Hallaj dinilai sulit dipahami oleh masyarakat awam dan ulama syariat pada masa Kekhalifahan Abbasiyah, yang berujung pada eksekusi matinya di Baghdad pada tahun 922 Masehi.
Kini, perspektif dunia Islam terhadap Al-Hallaj telah meluas secara inklusif. Banyak cendekiawan muslim internasional memandangnya bukan sebagai sosok yang menyimpang, melainkan sebagai pahlawan spiritual yang mengekspresikan tingkatan Tauhid tertinggi: sebuah penyadaran penuh bahwa manusia tidak memiliki daya dan wujud mandiri di hadapan Kebesaran Sang Maha Ada.
Penulis: Bawon Sutrisno,S.Sos
