-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Jelang 100 Tahun Sumpah Pemuda, Medan Bongkar Ancaman Algokrasi yang Pecah Belah Anak Muda

Thursday, 29 October 2026 | 18:10 WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-29T11:17:47Z

 


Medan, R-Semeru.com |  Jika 98 tahun lalu Sumpah Pemuda lahir untuk melawan penjajah dan menyatukan perbedaan, hari ini pemuda Indonesia menghadapi musuh baru yang tak kasat mata: algoritma.


Perang algoritma, ruang gema (echo chamber), dan polarisasi di media sosial dinilai menjadi ancaman paling nyata bagi persatuan bangsa menuju 100 tahun Sumpah Pemuda dan Indonesia Emas 2045.


Peringatan keras itu mengemuka dalam Diskusi Kebangsaan yang digelar di Medan dengan tema _"Menyongsong Seabad Sumpah Pemuda dan Tantangan Ruang Gema: Polarisasi Pemuda dan Merawat Persatuan di Era Algoritma"._


Diskusi yang dipandu Rafael Sinaga, SH ini menghadirkan pembicara lintas kalangan: Akademisi USU A. Fattah Lubis, S.Sos, MIP, Komda PMKRI Sumut-NAD Sirdo Sagala, SH, Ketua Agitasi dan Diplomasi Politik Viva Voce Kristoporus Simamora, S.Sos, serta Ketua Presidium PMKRI Medan Nicola Simarmata, S.Sos.


Akademisi USU: Jangan Jadi Komentator Medsos


A. Fattah Lubis menegaskan, Sumpah Pemuda 1928 lahir dari kesadaran kolektif mengesampingkan perbedaan suku, agama, dan daerah.


"Persoalannya hari ini, pemuda terjebak dalam ruang gema. Hanya mendengar apa yang ingin didengar. Jangan hanya pandai menyalahkan pemerintah tanpa refleksi diri. Ubah gagasan menjadi tindakan nyata, bukan hanya jadi komentator," tegasnya.


Bonus Demografi Bisa Jadi Bencana


Komda PMKRI Sumut-NAD Sirdo Sagala menambahkan, bonus demografi menuju 2045 bisa jadi berkah atau bencana jika persatuan tidak dirawat. Ia menekankan tiga kunci pemuda: kesadaran diri, keberanian bersuara, dan kemampuan melahirkan karya nyata.


"Persatuan tidak lahir dari slogan, tapi dari perasaan dan penderitaan yang sama," ujarnya.


Waspada Algokrasi


Sorotan paling tajam datang dari Kristoporus Simamora. Ia mengungkap fenomena _Algokrasi_, dimana algoritma yang mengatur informasi dan membentuk opini publik. Siapa kuasai data, dia kuasai kekuasaan.


"Perluasan ruang diskusi harus jadi gerakan bersama. Jadikan medsos sebagai teman yang baik, bukan diperbudak algoritma," tegasnya.


Ketua PMKRI Medan Nicola Simarmata menutup dengan pesan, Sumpah Pemuda jangan hanya jadi seremonial tahunan. Nilai kebaikan bersama harus diimplementasikan dengan memperkuat literasi digital dan solidaritas lintas iman dan suku.



Reporter: riski

×
Berita Terbaru Update