PROBOLINGGO, R-SEMERU.COM – Menjaga tradisi, merawat dawuh guru, sekaligus mempererat tali silaturahmi menjadi semangat yang terus dipegang teguh oleh Santri Bermasyarakat Pondok Pesantren Sumber Bunga, Seletreng, Situbondo, yang berdomisili di Kabupaten Probolinggo.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui Majelis Sholawat Nariyah 4444 (Shonar 4444) yang dilaksanakan secara istiqamah sebagai bentuk khidmah dalam melestarikan dawuh Hadratus Syekh KH. Ahmad Sufyan Miftahul Arifin.
Majelis ini bukan sekadar kegiatan rutin keagamaan, melainkan juga menjadi ruang untuk memperkuat ikatan persaudaraan antarsantri yang telah kembali ke tengah masyarakat. Melalui lantunan Sholawat Nariyah, para alumni terus menjaga kebersamaan, menghidupkan tradisi pesantren, dan meneguhkan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan Shonar 4444 dilaksanakan setiap bulan, pada pekan kedua, dengan lokasi yang berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya secara bergantian. Tradisi ini menjadi sarana silaturahmi sekaligus mempererat hubungan kekeluargaan di antara para santri bermasyarakat.
Pada Ahad (11/10/2026), majelis Shonar 4444 berlangsung di kediaman Hidayatullah, Dusun Gunung Malang, Desa Gunggungan Kidul, Kecamatan Pakuniran, Kabupaten Probolinggo.
Hasanuddin Tiro, Santri yang berasal dari Situbondo yang kini menetap di Paiton, Probolinggo, mengungkapkan rasa syukur dan apresiasinya atas kekompakan para santri bermasyarakat yang tetap bersemangat menghadiri majelis Shonar 4444 secara istiqamah, meskipun harus menempuh perjalanan dengan medan yang cukup menantang.
“Sangat bersyukur atas kekompakan teman-teman untuk hadir istiqamah. Walaupun medan yang dilalui agak ekstrem dan berada di daerah pegunungan, semangat teman-teman untuk tetap hadir dan mengikuti majelis ini patut kita syukuri,” ungkap Hasanuddin Tiro.
Menurutnya, kebersamaan dan komitmen untuk terus hadir dalam majelis menjadi bukti bahwa kecintaan terhadap guru dan tradisi pesantren tetap terjaga, meskipun para santri telah kembali ke lingkungan masyarakat masing-masing.
Semangat tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa jarak dan tantangan perjalanan bukanlah penghalang untuk menjaga silaturahmi serta melanjutkan amalan yang telah diwariskan para guru.
Dengan semangat kebersamaan dan istiqamah, para santri bermasyarakat berharap tradisi Sholawat Nariyah 4444 terus terjaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Lebih dari sekadar rutinitas, majelis ini menjadi ikhtiar untuk menyambungkan hati kepada guru, menjaga ukhuwah antarsantri, serta menumbuhkan nilai-nilai keberkahan dalam kehidupan bermasyarakat.
Merawat dawuh guru, menghidupkan sholawat, dan menjaga persaudaraan menjadi komitmen Santri Bermasyarakat dalam melanjutkan tradisi luhur pesantren di tengah kehidupan masyarakat.
Reporter: dyt
